Minggu, 22 Maret 2015

Tanda orang yang buta mata hatinya


Kesungguhan mu dalam mencari dunia yang hakikatnya sudah menjadi tanggungan alloh dan engkau sembrono dalam perkara ibadah kepada alloh, adalah menunjukkan orang yg buta mata hatinya.
Fainsya alloh maksudnya, tidak pantas bagi seorang yg menginginkan suluk kpd alloh berlebihan mencari urusan dunia yg hakikatnya menjadi tanggungan Allah tetapi ia lalai dan sembrono  dalam urusan ibadah ibadah, hal ini menunjukan seorang buta mata hatinya terhadap allohnya.
Di perkenankan memikirkan dan mencari urusan dunia asalkan tidak berlebihan sehingga tidak mengalahkan urusan ibadah kpda alloh..,sehingga mata hati tidak menjadi buta krn dunia..


Jangan sampai ada ( dalam hati mu ) karena lamanya pemberian ( terkabulnya doa ) , padahal engkau sudah bersungguh sungguh dalam berdoa, telah menjadikan engkau berputus asa kepada alloh.
Fainsya alloh, maksudnya.., hati hendaknya selalu berhusnudzon kpd alloh, jangan sampai karena lamanya di kabulkannya sebuah doa menjadikan hati berputus asa kepada alloh.
"Wallahu alimun hakim" sesungguhnya alloh maha mengetahui dan maha adil, alloh lebih mengetahui apa yang di butuhkan seorang hamba dan alloh maha adil atas kapan waktu yg tepat bagi hamba dalam mengabulkan doa hambanya.

#Abynas

Sabtu, 21 Maret 2015

Kuatnya keinginan tidak akan bisa merubah takdir

Tajamnya/kuatnya cita dan keinginan tidaklah bisa mendahului dan merubah takdir.
Maksudnya fainsya alloh, harapan dan keinginan hati yang kuat hendaknya di diiringi dengan tawakkal (pasrah kpd alloh) karena hal tersebut masih bergantung pada takdir alloh,
apabila impian,harapan, cita dan keinginan yang kuat tidak di ikuti dengan tawakkal (pasrah kpd alloh ) maka akan di dasari oleh nafsu yang menjadikan hati berpaling dari ketentuan alloh.


Tenangkanlah nafsumu dari sifat TADBIR ( bersusah payah dan memforsir diri serta merasa kuatir di dalam mengatur keperluan hidup ) karena tentang urusan mu sudah di urus oleh selain dirimu ( yakni alloh) tidak sepatutnya engkau campur tangan urusan alloh.

TADBIR adalah Usaha dalam urusan dunia secara memforsir diri dan penuh rekayasa, hal tersebut tidak di benarkan karena pada hakikatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin dan menanggung bagi mereka akan rizki mereka. Dan Allah yang mengatur segalanya.

Fainsya alloh maksudnya, untuk dapat suluk kepada alloh hati hendaknya dapat mengurangi sifat tadbir dalam urusan dunia, tadbir di perkenankan asal di iringi dengan tafwid/ tawakkal ( pasrah kpd alloh), krn hidup dan rizki telah di tentukan alloh.

Seperti dalam alquran yang artinya: Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu dianggap muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.►
(Qs 62 Al-Jumu'ah: 10)

#abynas

Maqom tajrid dan maqom asbab

Keinginan seseorang menjadi maqom tajrid (beribadah tanpa memikirkan dunia)saat dia di tetapkan alloh berada pada maqom asbab (bekerja ) itu bagian dari kesenangan nafsu yang samar,Dan keinginan seseorang menjadi maqom asbab saat dirinya di tetapkan alloh pada maqom tajrid itu menurunkan tujuan derajat yang luhur dari alloh.

Maqom asbab yaitu maqom dimana seseorang hidup lumrah seperti pada umumnya dia bekerja mencari rizki untuk beribadah dan pekerjaannya tidak menjadikan penghalang ibadahnya kepada alloh.
Maqom tajrid yaitu maqom di mana seseorang yang menggantungkan hati dan pikirannya hanya kepada alloh dengan menjauhkan diri dari perkara dunia.

Jadi Seseorang yang melakukan suluk (menempuh jalan menuju alloh) harus mengikuti pada maqom yang sudah di tetapkan alloh untuknya, biarkan pindahnya maqom terjadi karena alloh, bukan berpindah karena menuruti nafsu baik asbab maupun taj'rid 


Sebagian tanda menggantungkan / membanggakan amal yaitu berkurangnya pengharapan pada Allah ketika terjadi adanya kesalahan.
Maka seorang hamba yg membanggakan amalnya akan berkuranglah keikhlasan dalam hatinya dan harapan terhadap allohnya.

#Abynas


Kamis, 19 Maret 2015

ngaji hikam

dalam blok ini penulis mengajak para pembaca untuk ngaji online yang mengkaji  kitab al hikam karangan ibnu atho'illah dengan tujuan untuk memperbaiki hati agar hati menjadi jernih dan lebih dekat kepada alloh dan tidak kental akan cinta terhadap perkara dunia yang menjadikan hati gelap dan buta, dan penulis mengharap saran serta perbaikannya dari para pembaca apabila di temukan kekurangan atau kesalahan dalam penulisan terjemah / penafsiran hikmah - hikmah yang terkandung dalam kitab al hikam tersebut. karena penulis hanyalah seorang faqir yang selalu mengharap petunjuk kebenaran dari alloh dan hamba hamba yang telah di beri petunjuk oleh alloh.